Faktor Penyebab Kelainan Anak Berkebutuhan Khusus

Faktor Penyebab Kelainan Anak Berkebutuhan Khusus

Heri Purwanto

Kita   akan   memaparkan   berbagai   faktor   penyebab terjadinya anak berkebutuhan khusus. Untuk itu saudara diharapkan dapat mencermati ilustrasi dan uraian bacaan ini dengan baik. Selain itu diharapkan saudara untuk membaca berbagai referansi lain yang relevan dengan konteks bahasan. Dengan demikian,  usai mengikuti pembelajaran ini saudara diharapkan mampu menjelaskan faktor penyebab terjadinya kelainan atau anak berkebutuhan khusus.

 

  1. Faktor Penyebab kelainan

Ada  berbagai  faktor  yang  menyumbang  terjadinya  anak  berkebutuhan  khusus. Adapun faktor-faktor tersebut  meliputi:

  1. Heriditer

ilustrasi

Sepasang suami istri yang cukup bahagia dengan menunggu kelahiran anak pertamanya, kehamilan istrinya telah memasuki minggu ke 40. Setelah anaknya lahir betapa terkejutnya pasangan tersebut mendapatkan anak yang mengalami kelainan,  dokter  menyebutnya  dengan  Down’s  syndrome  atau  mongolism. Setelah mereka berkonsultasi dengan dokter ahli genetika maka diketahui bahwa pasangan suami istri tersebut memiliki gen yang sama. Hal ini dimungkinkan masih  adanya  jalinan  darah  atau  saudara  dari  pasangan  suami  istri  tersebut. Adanya kesamaan gen pada pasangan suami istri memiliki resiko tinggi untuk melahirkan anak kelainan kromosome salah satunya adalah Down’s syndrome atau   mongolism,   bagi   anak   Down’s   syndrome   sering   kelainannya   adalah kelebihan kromosome pada pasangan kromosome ke 21 yang dikenal dengan trisomi 21, dimana pada manusia terdapat 23 pasang kromosome.

Ilustrasi   tersebut   memaparkan   bahwa   faktor   penyebab   yang   berdasarkan keturunan atau sering dikenal dengan genetik, yaitu kelainan kromosome, pada kelompok faktor penyebab heriditer masih ada                                                                                  kelainan bawaan non genetik, seperti kelahiran pre-mature dan BBLR (berat bayi lahir rendah) yaitu berat bayi lahir kurang dari 2.500 gram, merupakan resiko terjadinya anak berkebutuhan khusus. Demikian juga usia ibu sewaktu hamil di atas 35 tahun memiliki  resiko yang cukup tinggi untuk melahirkan anak berkebutuhan khusus seperti terlihat pada tabel berikut.

USIA IBU KELAHIRAN DOWN’ S
20 TAHUN

25 TAHUN

30 TAHUN

35 TAHUN

40 TAHUN

45 TAHUN

49 TAHUN

1 DALAM 2000

1 DALAM 1200

1 DALAM 1000

1 DALAM 660

1 DALAM 80

1 DALAM 17

1 DALAM 10

ANDRIAN ASHMAN (1994:454)

 .

  1. Infeksi

Merupakan suatu penyebab dikarenakan adanya berbagai serangan penyakit infeksi   yang   dapat   menyebabkan   baik   langsung   maupun   tidak   langsung terjadinya kelainan seperti infeksi TORCH (toksoplasma, rubella, cytomegalo virus, herpes), polio, meningitis, dsb. Sebagai gambaran dapat dikemukakan sebagai berikut:

ilustrasi

Ada seorang ibu yang tengah hamil, dalam pemeriksaan dokter ternyata ibu tersebut mengidap virus toksoplasma, maka oleh dokter dikatakan ibu tersebut memiliki resiko tinggi melahirkan anak berkebutuhan khusus. Dalam perjalanan kehamilan ibu tersebut sering mangalami resiko keguguran namun masih dapat dipertahankan. Setelah memasuki masa kelahiran yaitu minggu ke 40 ternyata lahirlah  bayi  dengan  resiko  (BDR),  artinya  bayi  yang  dilahirkan  tersebut memiliki resiko menjadi anak berkebutuhan khusus karena terinfeksi virus tokso, sedangkan virus tokso menyerang pada susunan syaraf terutama syaraf pusat (otak), sehingga beresiko menjadi anak berkebutuhan khusus.

  1. Keracunan

ilustrasi

Seorang ibu muda sering merasa pusing dan mual-mual, untuk menghilangkan rasa pusing seperti biasa dia mengkonsumsi obat sakit kepala yang dijual bebas di pasaran. Setelah sekian lama kira-kira 2 bulan rasa pusingnya juga tidak pernah mereda, maka dia memeriksakan dirinya ke dokter. Dari pemeriksaan ternyata ibu tadi dinyatakan telah hamil 2 bulan. Setelah mengetahui kehamilannya maka dia lebih berhati-hati dalam mengkonsumsi obat-obatan, pada usia kehamilan yang ke 40 minggu ibu tadi melahirkan anaknya dengan normal. Setelah mengikuti perkembangan anaknya ternyata anak tersebut usia 2 tahun belum dapat berbicara. Padahal berdasarkan perkembangan anak normal seharusnya anak tersebut sudah dapat berbicara 1 sampai 2 patah kata. Anak tersebut mengalami kelambatan wicara (delayed speech).

Ilustrasi tersebut di atas merupakan gambaran salah satu penyebab lahirnya anak berkebutuhan khusus. Masih banyak jenis keracunan yang merupakan penyebab yang cukup banyak ditemukan karena seperti pola hidup masyarakat, keracunan dapat secara langsung pada anak, maupun melalui ibu hamil. Munculnya FAS (fetal            alchohol       syndrome)                 adalah keracunan                 janin yang    disebabkan            ibu mengkonsumsi alkohol yang berlebihan, kebiasaan kaum ibu mengkonsumsi obat bebas tanpa pengawasan dokter merupakan potensi keracunan pada  janin. Jenis makanan yang dikonsumsi bayi yang banyak mengandung zat-zat berbahaya merupakan salah satu penyebab. Adanya polusi pada berbagai sarana kehidupan terutama  pencemaran  udara  dan            air,  seperti  peristiwa  Bhopal  dan  Chernobil sebagai gambarannya.

  1. Trauma

Kejadian yang tak terduga dan menimpa langsung pada anak, seperti proses kelahiran yang sulit sehingga memerlukan pertolongan yang mengandung resiko tinggi, atau kejadian saat kelahiran saluran pernafasan anak tersumbat sehingga menimbulkan  kekurangan  oksigen  pada  otak  (asfeksia),  terjadinya  kecelakaan yang menimpa pada organ tubuh anak terutama bagian kepala.

Bencana alam seperti gempa bumi sering menyebabkan kejadian trauma. Ada seorang anak usia 4 tahun mengalami peristiwa gempa bumi yang menguncang daerah Yogyakarta tahun 2006. Anak tersebut mengalami fraktur pada tulang belakang,  yang  akhirnya  menyebabkan  anak  tersebut  mengalami  kelumpuhan pada kedua kakinya secara permanen. Hal ini dimungkinkan karena adanya syaraf motorik anggota gerak bawah anak tersebut yang mengalami kerusakan, karena pada sumsum tulang belakang (medula spinalis) merupakan pusat syaraf otonom dan motorik.

  1. Kekurangan gizi

Masa tumbuh kembang sangat berpengaruh terhadap tingkat kecerdasan anak terutama pada 2 tahun pertama kehidupan. Kekurangan gizi dapat terjadi karena adanya kelainan metabolism maupun penyakit parasit pada anak seperti cacingan. Hal ini mengingat Indonesia merupakan daerah tropis yang banyak memunculkan atau tempat tumbuh-kembangnya penyakit parasit dan juga karena kurangnya  asupan  makanan  yang  sesuai  dengan  kebutuhan  anak  pada  masa  tumbuh kembang. Hal ini di dukung oleh kondisi penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan.

Jika dipandang dari sudut waktu terjadinya kelainan dapat di bagi menjadi:

  1. Pre-natal,

Terjadinya kelainan anak semasa dalam kandungan atau sebelum proses kelahiran. Misalnya seorang ibu yang tengah hamil muda > 3 bulan keracunan olkhohol.

  1. Peri-natal,

Sering juga disebut natal waktu terjadinya kelainan pada saat proses kelahiran dan menjelang serta sesaat setelah proses kelahiran.

  1. Pasca-natal,

Terjadinya kelainan setelah anak dilahirkan sampai dengan sebelum usia perkembangan selesai (kurang lebih usia 18 tahun).

  1. Dampak Terjadinya Kelainan

Ilustrasi

Seorang anak remaja usia 16 tahun, dia duduk di kelas 2 IPA SMA mempunyai kebiasaan berangkat sekolah naik motor dengan kecepatan tinggi (ngebut). Pada suatu hari dia kurang konsentrasi dalam pengendarai motornya karena pikirannya terbelah dengan ulangan pelajaran matematika   yang akan dihadapi, sehingga dia mengalami kecelakaan dan harus dirawat di rumah sakit. Akibat dari benturan pada tulang belakangnya mengakibatkan adanya syaraf penglihatan yang putus sehingga dia diprediksi akan menjadi tunanetra. Setelah menjalani operasi tulang belakang dan dinyatakan sembuh oleh dokter namun ia mengalami kebutaan. Betapa tergoncangnya jiwa anak tersebut, sehingga dia mengalami depresi berat dan harus selalu berada dalam pengawasan psikiater dan psikolog sampai dia dapat menerima keadaannya. Di samping itu keluarga juga memerlukan bimbingan psikologis, agar mampu menghadapi anak berkebutuhan khusus yang baru saja dideritanya.

Dari gambaran ilustrasi tersebut akibat terjadinya berkebutuhan khusus sebagai suatu keadaan pada individu dengan kondisi mental yang lemah termanifestasikan pada bentuk keterlambatan dan ketidak seimbangan di dalam segala aspek. Tantangan membimbing berkebutuhan khusus tersebut sebagai wujud dari hambatan yang dimiliki berkebutuhan khusus. Hambatan itu adalah internalisasi rangsangan lingkungan berakibat anak   berkebutuhan khusus tidak mampu memenuhi tuntutan lingkungan   secara   fisiologis,   psikologis   dan   sosiologis.   Berkebutuhan   khusus mengalami kesulitan dalam memenuhi tuntutan lingkungan tersebut sebagai dampak dari keadaan kebutuhan khusunya yang berakibat juga pada kondisi sosial psikologis anak berkebutuhan khusus, dan secara rinci diuraikan sebagai berikut:

  1. Dampak Fisiologis

Dampak fisiologis, terutama pada anak-anak yang mengalami kelainan yang berkaitan dengan fisik termasuk sensori-motor terlihat pada keadaan fisik penyandang berkebutuhan khusus kurang mampu mengkoordinasi geraknya, bahkan pada berkebutuhan khusus taraf berat dan sangat berat baru mampu berjalan di usia lima tahun atau ada yang tidak mampu berjalan sama sekali. Tanda keadaan fisik penyandang berkebutuhan khusus yang kurang mampu mengkoordinasi gerak antara lain: kurang mampu koordinasi sensori motor, melakukan gerak yang tepat dan terarah, serta menjaga kesehatan.

  1. Dampak Psikologis

Dampak psikologis timbul berkaitan dengan kemampuan jiwa lainnya, karena keadaan           mental yang                labil        akan    menghambat    proses              kejiwaan                 dalam tanggapannya terhadap tuntutan lingkungan. Kekurangan mampuan dalam penyesuaian diri yang diakibatkan adanya ketidak sempurnaan individu, akibat dari rendahnya ”self esteem” dan dimungkinkan adanya kesalahan dalam pengarahan diri (self direction).

  1. Dampak Sosiologis

Dampak sosiologis timbul karena hubungannya dengan kelompok atau individu di sekitarnya,                     terutama    keluarga    dan    saudara-saudaranya.    Kehadiran    anak berkebutuhan khusus di keluarga menyebabkan berbagai perubahan dalam keluarga. Keluarga sebagai suatu unit sosial di masyarakat dengan kehadiran anak berkebutuhan khusus merupakan musibah, kesedihan, dan beban yang berat. Kondisi  itu  termanifestasi  dengan  reaksi  yang  bermacam-macam,  seperti  : kecewa, shock, marah, depresi, rasa bersalah dan bingung. Reaksi yang beraneka ini dapat mempengaruhi hubungan antara anggota keluarga yang selamanya tidak akan kembali seperti semula.

Pada umumnya, ibu yang mengalami trauma paling berat dan mendapatkan peran yang terkekang dengan kehadiran anak berkebutuhan khusus. Peran harus memelihara  anak  berkebutuhan  khusus  dibutuhkan  banyak  waktu,  sehingga banyak tugas lain semakin berkurang. Dengan tumbuhnya anak berkebutuhan khusus yang semakin besar, muncullah dilemma pada ibu yang fungsinya sebagai penjaga atau pemelihara dan tugasnya untuk menumbuhkan kemandirian anak. Semua masalah di keluarga tersebut merupakan dampak sosiologis yang harus ditanggung oleh keluarga.

Anak berkebutuhan khusus yang kurang mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan sosialnya, dapat menimbulkan respon yang negatif dari lingkungan sosial anak berkebutuhan khusus. Hal ini berdampak anak dijauhi atau ditolak oleh lingkungan sosial, dan dalam berkomunikasi akan terjadi jurang pemisah (communication gap) antara anak berkebutuhan khusus dengan orang- orang di lingkungannya. Jurang pemisah dalam hal berkomunikasi dapat terjadi karena orang di lingkungannya menyampaikan pesan verbal yang tidak sesuai dengan   kemampuan          atau                    daya tangkap           anak                berkebutuhan  khusus.

”Communication gap” ini merupakan dampak yang menimbulkan salah suai pada anak berkebutuhan khusus.

Dampak   keberkebutuhan   khusus   dari   tiga   dimensi   tersebut   menyebabkan pengaruh yang cukup berarti dalam kehidupan mereka. Keterbatasan dan daya kemampuan yang mereka miliki menimbulkan munculnya berbagai masalah. Masalah yang mereka hadapi relatif berbeda-beda, walaupun ada kesamaan yang dirasakan oleh mereka ini sebagai dampak keberkebutuhan kekhususan, dan yang ada kesamaan dirasakan mereka (Amin 1995:41-51) meliputi:

  1. Masalah kesulitan dalam kehidupan sehari-hari.

Masalah ini berkaitan dengan kesehatan dan pemeliharaan diri sendiri. Kondisi keterbatasan mereka banyak yang mengalami kesulitan dalam kehidupan sehari- hari terutama pada berkebutuhan khusus kategori berat dan sangat berat. Keadaan itu  diharapkan  dalam  program  penanganan  memprioritaskan  bimbingan  dan latihan keterampilan aktifitas kehidupan sehari-hari terutama memelihara diri sendiri, seperti: cara makan, menggosok gigi, memakai baju, memasang sepatu, serta pekerjaan rumah tangga yang sangat sederhana.

  1. Masalah penyesuaian diri.

Kemampuan penyesuaian diri dengan lingkungan dipengaruhi beberapa faktor salah       satunya            kecerdasan.                    Kecerdasan   yang    rendah    berakibat    hambatan penyesuaian diri, dan pada anak berkebutuhan khusus. Kondisi itu menimbulkan kecenderungan diisolir oleh keluarga maupun masyarakat. Kecenderungan terisolasi pada mereka mengakibatkan pembentukan pribadinya tidak layak, untuk itu dalam program penanganan pada mereka perlu menyarankan kepada keluarga supaya tidak mengisolir.

  1. Masalah penyaluran ke tempat kerja.

 Keterbatasan pada anak berkebutuhan khusus merupakan problem di dalam mendapatkan pekerjaan. Masalah ini perlu diprioritaskan dalam program penanganan untuk menyiapkan anak berkebutuhan khusus dengan berbagai program  keterampilan yang dapat digunakan untuk mencari nafkah atau bekerja. Lembaga penanganan anak berkebutuhan khusus perlu juga memprogramkan penyaluran kerjanya atau membentuk bengkel kerja yang terlindung (sheltered work shop).

  1. Masalah kesulitan belajar.

 Keterbatasan     kemampuan     fisiologik      dari     anak     berkebutuhan     khusus mengakibatkan kesulitan mencapai prestasi belajar bidang akademik. Kondisi ini perlu diperhatikan bahwa program penanganan diusahakan dapat memenuhi kebutuhan anak untuk mencapai prestasi belajar. Dalam pembelajaran bidang akademik diusahakan materi dan metode, serta equipment   yang sesuai dengan kondisi mereka.

  1. Masalah gangguan kepribadian dan emosi.

 Keterbatasan    pada    fisiologis     anak     berkebutuhan    khusus     menyebabkan keseimbangan pribadinya kurang stabil. Kondisi yang demikian itu dapat dilihat pada penampilan tingkah lakunya sehari-hari, misalnya: berdiam diri berjam-jam lamanya, gerakan yang hiperaktif, mudah marah, mudah tersinggung, suka mengganggu orang lain di sekitarnya, bahkan tindakan merusak (destruktif).

  1. Masalah pemanfaatan waktu luang.

Anak berkebutuhan khusus dalam tingkah lakunya sering menampilkan tingkah laku nakal dan mengganggu ketenangan lingkungannya, hal ini terjadi karena anak berkebutuhan khusus tidak mampu berinisiatif yang dipandang layak oleh lingkungan. Mereka tidak mampu menggunakan waktu untuk inisiatif kegiatan yang terarah jika tidak ada yang mengarahkan. Bagi yang pasif cenderung suka berdiam diri atau menjauhkan diri dari keramaian. Kondisi-kondisi yang terjadi pada  berkebutuhan  khusus  itu  perlu  diperhatikan  dalam  program  penanganan untuk memberi kegiatan saat mereka mempunyai waktu luang. Kegiatan yang terarah saat waktu luang untuk menghindari efek negatif yang dilakukan olehnya karena  kegiatannya  tidak  membahayakan  dan  tidak  mengganggu  lingkungan.

Kegiatan yang terarah pada waktu luang merupakan tenggung jawab bersama antara sekolah, pengasuh, dan orang tua. Tanggung jawab bersama ini mutlak dilakukan karena mereka saat berada di manapun kegiatannya harus diarahkan. Waktu luang yang tanpa diarahkan dengan kegiatan berakibat digunakan oleh mereka untuk kegiatan yang negatif.

Latihan

Untuk lebih memahami bacaan di atas maka kerjakan tugas latihan berkut:

  1. Kumpulkan berbagai faktor yang mempunyai kontribusi melahirkan anak berkebutuhan khusus.
  2. Buatlah ilustrasi penyebab anak berkebutuhan khusus yang terjadi sewaktu peri- natal.
  3. Buatlah ilustrasi    dampak   sosial    terhadap   keluarga    yang   memiliki    anak berkebutuhan khusus.

Rambu-rambu Jawaban Latihan

Untuk dapat menyelesaikan latihan tersebut anda lakunan;

  1. Coba anda baca sumber bahan yang disarankan dan sumber bahan lain yang relevan di perpustakaan.
  2. Anda dapat  melakukan  case  study  sederhana  terhadap  satu  anak  yang berkebutuhan khusus, dengan mengumpulkan data dari berbagai sumber yang terkait.
  3. Anda dapat melakukan observasi ke sekolah dan ke keluarga yang memiliki anak berkebutuhan khusus.

Rangkuman

Ada berbagai faktor yang berkontribusi terhadap penyebab anak berkebutuhan khusus adapun faktor tersebut dapat dikelompokkan berikut:

  • Faktor heriditer
  • Faktor infeksi
  • Faktor keracunan
  • Kekurangan gizi

Sedangkan  anak berkebutuhan khusus bila ditinjau dari waktu terjadinya kelainan dapat dikelompokkan:

  • Pre-natal
  • Peri-natal
  • Pasca-natal

Kelainan yang diderita anak dapat menimbulkan berbagai dampak, baik terhadap keluarga maupun anak itu sendiri. Dampak yang ditimbulkan adanya anak berkebutuhan khusus dapat dibagi menjadi:

  • Dampak fisiologis
  • Dampak psikologis, dan
  • Dampak sosiologis.

 TES FORMATIF 

 Pilihlah salah satu alternatif jawaban yang anda anggap paling benar

  1. Seorang ibu yang melahirkan anak dengan berat bayi lahir 2.100 gr, dan bayi tersebut masuk kelompok bayi beresiko. Ditinjau dari waktu terjadinya adalah:
  2. A. Pre-natal B. Post-natal C.  Peri-natal D.  Pasca-natal

  1. Seorang ibu hamil gemar mengkonsumsi minuman beralkhohol, setelah bayinya lahir dengan BBLR maka bayi yang dilahirkan dikenal dengan istilah:
  2. A. Down’s syndrome
  3. Toxin syndrome
  4. FAS
  5. D. Asfeksia

  1. Perkawinan dalam    keluarga     (incest)    beresiko    melahirkan     anak berkebutuhan khusus, karena adanya persamaan:
  2. A. Darah
  3. Gen

  1. Kromosome
  2. D. Blood
  1. Ibu hamil  dan  melahirkan  pada  usia  diatas  40  tahun  beresiko  tinggi melahirkan anak:
  2. A. Tunagrahita
  3. Tunarungu
  4. Strauss syndrome
  5. D. Down’s syndrome

  1. Seorang tunanetra yang terjadi setelah dia dewasa akan berpengaruh pada : A. Lingkungan
  2. Kejiwaan anak
  3. Kemampuan akademik
  4. D. Keluarga
  1. Anak yang lumpuh layu pada satu kakinya karena terserang virus pada masa anak-anak maka virus tersebut adalah:
  2. A. Tokso plasma
  3. Rubella
  4. Cito megalo virus
  5. D. Polio
  1. Seorang ibu mengidap penyakit CMV dan untuk menyembuhkanya dia mengkon-sumsi obat berdasarkan petunjuk dokter, setelah melahirkan ternyata dia melahirkan anak beresiko berkebutuhan khusus, maka faktor penyebabnya adalah:
  2. A. Keracunan
  3. Infeksi
  4. Heriditer
  5. D. Parasit

  1. Seorang anak usia 2 tahun berat badanya menurut Kartu Menuju Sehat (KMS) selalu berada di bawah normal, sedangkan anak tersebut dari keluarga mampu sehingga dalam hal makanan selalu terpenuhi, yang menyebabkan pertumbuhan  anak  di  bawah  normal  kemungkinanya adalah:
  2. A. Infeksi
  3. Kurang gizi C. Mal-nutrisi D. Parasit

  1. Seorang anak yang mengalami kelumpuhan pada kakinya, sehingga dia merasa minder bergaul dengan teman sebayanya dan mengakibatkan prestasi belajarnyapun berada di bawah rerata, maka sebenarnya anak ini memiliki masalah:
  2. A. Sosial
  3. Psikologis C. Fisiologis D. Mobilisasi

  1. Seorang anak mengalami keterbelakangan mental (tunagrahita) yang dilahirkan dari keluarga terdidik (SES tinggi), tetapi ternyata sejak kecil dia pola makannya  kurang  diperhatikan  oleh  orang  tuanya,  menurut dokter dia kekurangan zat yodium, maka anak ini kelainannya disebabkan oleh:
  2. A. Keracunan
  3. Infeksi
  4. Pola asuh
  5. D. Kurang gizi.

Jawaban Tes Formatif

  1. C. Karena terjadinya pada saat kelahiran.

 C. Kelainan anak disebabkan oleh keracunan alkohol yang dialami oleh ibunya.

  1. B. Gen yang sama dimungkinkan karena dalam keluarga.

  1. D. Usia ibu hamil yang di atas 40 tahun beresiko melahirkan anak Down’s syndrome lihat pada sumber pustaka Adrian Ashman.
  1. B. Kesulitannya ada pada penerimaan keadaan yang berubah terhadap diri individu.
  1. D. Karena virus polio menyerang pada anak-anak sehingga sering dikenal dengan kelumpuhan anak.
  1. B. CMV adalah virus yang menginfeksi janin.
  1. D. Melihat kasusnya asupan makanan bagus maka dimungkinkan karena parasit.
  1. B. Perasaan rendah diri merupakan gangguan psikologis
  1. D. Kekurangan zat yodium merupakan salah satu nutrisi yang penting dalam pertumbuhan.

BACA JUGA:

HAKIKAT ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus

Jenis Anak Berkebutuhan Khusus

Faktor Penyebab Kelainan Anak Berkebutuhan Khusus

Hak-hak Yang Dimiliki Anak Berkebutuhan Khusus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *