Jenis Anak Berkebutuhan Khusus

Jenis Anak Berkebutuhan Khusus

Heri Purwanto

Kali ini akan dipaparkan berbagai jenis anak berkebutuhan khusus. Untuk itu saudara diharapkan dapat mencermatinya uraian bacaan ini dengan baik. Selain itu diharapkan saudara untuk membaca berbagai referansi lain yang relevan dengan konteks bahasan dan juga memperhatian tayangan video ”Anak Berkebutuhan Khusus”. Dengan demikian,    usai mengikuti pembelajaran ini saudara diharapkan mampu menerangkan jenis-jenis anak berkebutuhan khusus.

 Pendahuluan

Catatan statistik kependudukan di suatu wilayah, akan mencatat jumlah semua anak usia sekolah di wilayah tersebut, tanpa harus membedakan anak normal atau berkebutuhan khusus. Demikian juga bagi dinas pendidikan suatu wilayah yang akan memberikan bantuan beaya pendidikan, tidak akan membedakan siswa normal dan berkebutuhan khusus, mereka hanya membedakan akan jenjang dan jenis pendidikan yang memperoleh bantuan beaya pendidikan. Hal ini berarti klasifikasi anak berkebutuhan khusus dalam permasalahan umum tidak begitu diperlukan atau kurang berarti, tetapi ada kalanya klasifikasi itu diperlukan.

Anak berkebutuhan khusus merupakan satu istilah umum yang menyatukan berbagai jenis kekhususan atau kelainan. Seorang guru sekolah khusus (SLB), merasakan kesulitan dalam menghadapi anak didiknya yaitu anak berkebutuhan khusus yang begitu heterogin, sehingga dia perlu mengelompokkan anak didiknya berdasar jenis kelainannya agar lebih homogin sehingga dapat memberikan pembelajaran yang lebih optimal.

Untuk kepentingan penanganan baik pendidikan maupun pengajaran dan therapy terhadap anak berkebutuhan khusus, maka diperlukan klasifikasi dengan tujuan agar penanganan anak lebih sesuai dan memperoleh hasil yang optimal. Adapun jenis anak berkebutuhan khusus dapat dikelompokkan sebagai berikut:

  1. Jenis anak Berkebutuhan Khusus
  2. Kelainan Mental terdiri dari:
  3. Mental Tinggi

Sering dikenal dengan anak berbakat intelektual, dimana selain memiliki kemampuan  intelektual  di  atas  rerata  normal  yang  signifikan  juga memiliki kreativitas dan tanggung jawab terhadap tugas.

  1. Mental rendah

Kemampuan mental rendah atau kapasitas intelektual (IQ) di bawah rerata dapat  dibagi  menjadi  2  kelompok  yaitu  anak  lamban  belajar  (slow learners) yaitu anak yang memiliki IQ antara 70 – 90. Sedangkan anak yang memiliki IQ di bawah 70 dikenal dengan anak berkebutuhan khusus.

  1. Berkesulitan Belajar Spesifik

Berkesulitan belajar berkaitan dengan prestasi belajar (achivement) yang diperoleh siswa. Anak berkesulitan belajar spesifik adalah anak yang memiliki kapasitas intelektual normal ke atas tetapi memiliki prestasi belajar rendah pada bidang akademik tertentu.

  1. Kelainan Fisik meliputi:
  2. Kelainan Tubuh (Tunadaksa)

Adanya kondisi tubuh yang menghambat proses interaksi dan sosialisasi individu meliputi kelumpuhan yang dikarenakan polio, dan gangguan pada fungsi syaraf otot yang disebabkan kelayuhan otak (cerebral palsy), serta adanya kehilangan organ tubuh (amputasi).

  1. Kelainan indera Penglihatan (Tunanetra)

Seseorang yang sudah tidak mampu menfungsikan indera penglihatannya untuk keperluan pendidikan dan pengajaran walaupun telah dikoreksi dengan lensa. Kelainan penglihatan dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu buta dan low vision.

  1. Kelainan Indera Pendengaran (Tunarungu)

Kelainan pendengaran adalah seseorang yang telah mengalami kesulitan untuk menfungsikan pendengaranya untuk interaksi dan sosialisasi dengan lingkungan termasuk pendidikan dan pengajaran. Kelainan pendengaran dapat dikelompokkan menjadi 2, yaitu tuli  (the deaf) dan kurang dengar (hard of hearing).

  1. Kelainan Wicara

Seseorang yang mengalami kesulitan dalam mengungkapkan pikiran melalui bahasa verbal, sehingga sulit bahkan tidak dapat dimengerti orang lain.  Kelainan  wicara  ini  dapat  bersifat  fungsional  dimana mungkin disebabkan karena ketunarunguan, dan organik yang memang disebabkan adanya ketidak sempurnaan organ wicara maupun adanya gangguan pada organ motoris yang berkaitan dengan wicara.

  1. Kelainan Emosi

Gangguan emosi merupakan masalah psikologis, dan hanya dapat dilihat dari indikasi perilaku yang tampak pada individu (akan dibahas lebih dalam pada bab IV) adapun klasifikasi gangguan emosi meliputi:

  1. Gangguan Perilaku

ƒ   mengganggu di kelas

ƒ   tidak sabaran – terlalu cepat bereaksi

ƒ   tidak menghargai – menentang

ƒ   menyalahkan orang lain

ƒ   kecemasan terhadap prestasi di sekolah

ƒ   dependen pada orang lain

ƒ   pemahaman yang lemah

ƒ   reaksi yang tidak sesuai

ƒ   melamun, tidak ada perhatian, menarik diri

  1. Gangguan Konsentrasi (ADD/Atention Deficit Disorder)

Enam atau lebih gejala inattention, berlangsung paling sedikit 6 bulan, ketidakmampuan untuk beradaptasi, dan tingkat perkembangannya tidak konsisten. Gejala-gejala inattention tersebut ialah:

ƒ   Sering  gagal  untuk  memperhatikan  secara  detail,  atau  sering membuat kesalahan dalam pekerjaan sekolah atau aktivitas yang lain.

ƒ   Sering kesulitan untuk memperhatikan tuga-tugas atau aktivitas permainan.

ƒ   Sering tidak mendengarkan ketika orang lain bicara.

ƒ   Sering tidak mengikuti instruksi untuk menyelesaikan pekerjaan sekolah.

ƒ   Kesulitan untuk mengorganisir tugas-tugas dan aktivitas-aktivitas.

ƒ   Tidak menyukai pekerjaan rumah dan pekerjaan sekolah.

ƒ   Sering tidak membawa peralatan sekolah seperrti pensil buku dan sebagainya.

ƒ   Sering mudah beralih pada stimulus luar.

ƒ   Mudah melupakan terhadap aktivitas sehari-hari.

  1. Anak  Hiperaktive  (ADHD/Atention  Deficit  with  Hiperactivity

Disorder)

ƒ  Perlaku tidak bisa diam

ƒ  Ketidak mampuan untuk memberi perhatian yang cukup lama

ƒ  Hiperaktivitas

ƒ  Aktivitas motorik yang tinggi

ƒ  Mudah buyarnya perhatian

ƒ  Canggung

ƒ  Infleksibilitas

ƒ  Toleransi yang rendah terhadap frustrasi

ƒ  Berbuat tanpa dipikir akibatnya

Perkembangan layanan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus tidak akan lepas dari peran dan peranan pemerintah dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional. Untuk peningkatan layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus Departemen Pendidikan Nasional melalui Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa (PSLB)              memiliki      kebijakan     tersendiri                               dalam           mengelompokan                 anak-anak berkebutuhan khusus, walaupun sebenarnya sama hanya pada klasifikasi yang dikemukakan oleh PSLB lebih pada aplikasi jenis sekolah luar biasa yang ada di lapangan.  Adapun  klasifikasi  yang  diberikan  oleh  direktorat  PSLB  (Dir.  PSLB:

2006:20-21) adalah sebagai berikut: A.  Tunanetra

  1. Tunarungu
  2. Berkebutuhan khusus : (a.l. Down Syndrome)

– C : Berkebutuhan khusus Ringan (IQ = 50-70)

– C1 : Berkebutuhan khusus Sedang (IQ = 25-50)

– C2 : Berkebutuhan khusus Berat (IQ < 25 ) D.  Tunadaksa :

– D  : Tunadaksa Ringan

– D1: Tunadaksa Sedang

  1. Tunalaras (Dysruptive) F. Tunawicara
  2. Tunaganda
  3. HIV AIDS
  4. Gifted : Potensi Kecerdasan Istimewa (IQ > 125 )
  5. Talented :  Potensi  Bakat  Istimewa  (Multiple  Intelligences  : Language,   Logico                                               Mathematic,   Visuospatial,   Bodily-kinesthetic,    Musical,     Interpersonal,    Intrapersonal,     Natural, Spiritual)
  1. Kesulitan Belajar (a.l. Hyperaktif, ADD/ADHD, Dyslexia/Baca, Dysgraphia/Tulis, Dyscalculia/Hitung, Dysphasia/Bicara, Dyspraxia/ Motorik)
  2. Lambat Belajar ( IQ = 70 – 90 ) M. Autis
  3. Korban Penyalahgunaan Narkoba
  4. Indigo

Latihan

Untuk lebih memahami bacaan di atas maka kerjakan tugas latihan berkut:

  1. Buatlah ilustrasi pentingnya pengelompokkan anak berkebutuhan khusus.
  2. Bagaimana mengelompokkan anak-anak yang kelainan mental
  3. Bagaimana mengelompokkan jenis kelainan sensory-motor

Rambu-rambu Jawaban Latihan

Untuk mengerjakan latihan tersebut anda dapat:

  1. berkunjung ke sekolah khusus yang memiliki siswa berbagai jenis kelainan, dan lakukan wawancara dengan guru-guru SLB tentang pentingnya pengelompokkan anak.
  2. Bacalah berbagai sumber yang disarankan dan lakukakan wawancara dengan berbagai pihak yang berkaitan dengan anak-anak kelainan mental.
  3. Anda dapat mengamati video anak berkebutuhan khusus dan membaca sumber bahan serta dapat melakukan observasi di sekolah khusus dan wawancara dengan guru.

Rangkuman

Pengelompokkan    anak    berkebutuhan    khusus    hanya    diperlukan    untuk kebutuhan penanganan anak secara klasikal, sedangkan untuk kepentingan yang bersifat sosial anak berkebutuhan khusus tidak perlu dikelompokkan. Anak berkebuthan khusus dapat dikelompokkan sebagai berikut:

  1. Kelainan Mental terdiri dari:
  • Mental Tinggi
  • Mental rendah
  • Kesulitan belajar
  1. Kelainan Fisik meliputi:
  • Kelainan Tubuh (Tunadaksa)
  • Kelainan indera Penglihatan (Tunanetra)
  • Kelaianan Indera Pendengaran (Tunarungu)
  • Kelainan Wicara
  1. Kelainan Emosi meliputi:
  • Gangguan Perilaku
  • Gangguan Konsentrasi (ADD)
  • Anak Hiperaktive (ADHD)

TES FORMATIF 

Pilihlah salah satu alternatif jawaban yang anda anggap paling benar

  1. Pengelompokkan atau klasifikasi anak berkebutuhan khusus diperlukan hanya untuk:
  2. A. Persamaan hak anak
  3. Penanganan anak
  4. Meringankan anak
  5. D. Memudahkan bantuan

  1. Seorang anak yang tidak naik kelas sampai 2 kali, ternyata dia mengalami gangguan pada telinganya, maka dia masuk kelompok anak:
  2. A. Tunanetra
  3. Berkebutuhan khusus
  4. Tunawicara
  5. D. Tunarungu

  1. Anak yang  memiliki  kapasitas  intelektual  (IQ)  80  maka  dia  masuk kelompok anak:
  2. A. Berkebutuhan khusus B. Berkesulitan belajar C.  Slow learners
  3. D. Rapid learning

  1. Anak yang  mengalami  gangguan  wicara  (tunawicara)  masuk  pada kelompok kelainan:
  2. A. Mental
  3. Sensories
  4. Emosi
  5. D. Motoris

  1. Seorang anak klas 2 SD tidak naik 2 kali, setelah diadakan tes inteligensi ternyata dia memiliki IQ 70, berarti dia masuk kelompok:
  2. A. Berkebutuhan khusus B. Berkesulitan belajar C.  Lamban belajar
  3. D. Kelainan mental

  1. Seseorang yang   memiliki   gangguan   penglihatan   dan   masih   dapat digunakan untuk melihat cahaya tetapi sudah tidak dapat digunakan untuk membaca maka orang tersebut masuk kelainan:
  2. A. Tunanetra
  3. Buta
  4. Slow learners
  5. D. Low vision.

  1. Ada anak yang terserang polio kemudian mengalami kelumpuhan pada kaki kirinya, maka dia masuk kelompok anak:
  2. A. Kelainan mental
  3. Kelainan fisik
  4. Kelainan emosi
  5. D. Kelainan se

  1. Seorang anak yang mempunyai gerak perilaku yang tidak dapat diam yaitu hiperaktive, maka dia dapat dikelompokkan pada anak berkelainan:
  2. A. Motorik B. Sensories C.  Mental
  3. D. Emosi

  1. Jika ada anak yang selalu memiliki prestasi rendah (di bawah rerata kelas) tetapi sebenarnya dia memiliki potensi kapasitas intelektual (IQ) yang tinggi, maka anak tersebut dikelompokkan pada anak:
  2. A. Berkesulitan belajar B. Berbakat intelektual C.  Slow learners
  3. D. Em

  1. Anak yang  memiliki  kelainan  pada  syaraf  sensori-motor  atau  sering disebut dengan cerebral palsy (CP) maka dia masuk pada kelompok:
  2. A. Kelainan mental
  3. Kelainan fisik
  4. Kelainan emosi
  5. D. Kelainan perilaku.

  1. Seorang anak yang  memiliki  prestasi  belajar  rendah,  dikarenakan kesulitan      dalam                  berkonsentrasi,                 maka    anak   tersebut   masuk    pada kelompok anak:
  2. A. Berkebutuhan khusus
  3. Atention deficit disorder (ADD). C. Emosi.
  4. D.

Jawaban Tes Formatif 

  1. B. Karena untuk efektifitas penanganan diperlukan homogenitas kelainan.
  2. D. Gangguan  atau  kelainan  pada  telinga  merupakan  kelainan  sensori pendengnaran.
  3. C. Slow learners memiliki rentang IQ antara 70 – 90.
  4. D. Wicara merupakan aktivitas motorik halus.
  5. D. Kelainan  mental  rendah  atau  tunagrahita  adalah  seseorang  yang memiliki kapasitas kemampuan atau IQ di bawah 70.
  6. D. Low vision merupakan tunanetra yang masih memiliki sisa penglihatan dan dapat untuk membedakan gelap dan terang.

  1. B. Polio menyerang pada syaraf motorik yang mengakibatkan kelumpuhan pada anggota gerak fisik.
  2. A. Kesulitan  belajar  merupakan  bentuk  kesenjangan  yang  signifikan antara potensi dan prestasi yang dicapai.
  3. B. Cerebral palsy merupakan bentuk kelainan fisik berupa kelayuhan pada anggota gerak.
  4. B. Gangguan  keterbatasan  konsentrasi  sangat  mempengaruhi  prestasi belajar.

BACA JUGA:

HAKIKAT ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus

Jenis Anak Berkebutuhan Khusus

Faktor Penyebab Kelainan Anak Berkebutuhan Khusus

Hak-hak Yang Dimiliki Anak Berkebutuhan Khusus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *