Model Layanan Pendidikan Bagi Anak Berkebutuhan Khusus

Model Layanan Pendidikan Bagi Anak Berkebutuhan Khusus

Suparno

Edi Purwanto

Pada subunit ini  akan disajikan  berbagai model atau bentuk  layanan pendidikan bagi   anak   berkebutuhan   khusus   yang   mengalami kecacatan   fisik,   yaitu tunanetra, tunarungu/wicara, tuna daksa, tunamental, tunalaras, dan anak berbakat. Untuk mengenal lebih lanjut layanan   pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus terlebih dahulu akan diuraikan beberapa bentuk atau jenis  layanan  pendidikan  bagi anak berkebutuhan  khusus  secara  umum dan khusus. Setelah mengikuti uraian ini diharapkan   saudara   memiliki   kompetenti   untuk   menjelaskan   bentuk   layanan pendidikan bagi anak bekebutuhan khusus.

Bentuk Layanan

Menurut Hallahan dan Kauffman (1991)  bentuk penyelenggaraan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus  ada berbagai pilihan, yaitu:

  1. Reguler Class Only (Kelas biasa dengan guru biasa)
  2. Reguler Class with Consultation (Kelas biasa dengan konsultan guru PLB)
  3. Itinerant Teacher (Kelas biasa  dengan guru kunjung)
  4. Resource Teacher (Guru sumber, yaitu kelas biasa dengan guru biasa, namun dalam beberapa kesempatan anak berada di ruang sumber dengan guru sumber)
  5. Pusat Diagnostik-Prescriptif
  6. f. Hospital or Homebound Instruction (Pendidikan di rumah atau di rumah sakit, yakni kondisi anak yang memungkinkan belum masuk ke sekolah biasa).
  7. Self-contained Class (Kelas khusus  di sekolah biasa  bersama guru PLB)
  8. Special Day School (Sekolah luar biasa tanpa asrama)
  9. i. Residential School (Sekolah luar biasa berasrama)

Samuel A. Kirk (1986)    membuat    gradasi layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus bergradasi dari model segregasi ke model mainstreaming seperti tersebut di bawah ini:

Least Restrective Environment

(Sekolah Reguler Penuh)

Berdasarkan kedua pendapat tersebut di atas, bentuk-bentuk layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok besar, yaitu:

  1. Bentuk Layanan Pendidikan Segregrasi

Sistem  layanan  pendidikan  segregasi  adalah     sistem  pendidikan  yang terpisah  dari  sistem pendidikan  anak  normal.  Pendidikan  anak berkebutuhan khusus melalui sistem segregasi maksudnya adalah penyelenggaraan pendidikan yang dilaksanakan  secara khusus, dan terpisah dari penyelenggaraan pendidikan untuk anak normal. Dengan kata               lain anak berkebutuhan khusus           diberikan layanan pendidikan pada lembaga pendidikan khusus  untuk anak berkebutuhan khusus, seperti Sekolah Luar Biasa atau Sekolah Dasar Luar Biasa, Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa, Sekolah Menangah Atas Luar Biasa.

Sistem pendidikan segregasi merupakan sistem pendidikan     yang paling tua.  Pada awal  pelaksanaan,  sistem  ini  diselenggarakan karena adanya kekhawatiran  atau keraguan  terhadap kemampuan  anak berkebutuhan khusus untuk  belajar bersama dengan  anak normal. Selain itu, adanya  kelainan  fungsi tertentu pada     anak berkebutuhan khusus memerlukan layanan pendidikan dengan   menggunakan metode yang sesuai dengan kebutuhan khusus mereka. Misalnya, untuk anak tunanetra, mereka memerlukan layanan khusus berupa braille, orientasi mobilitas. Anak tunarungu  memerlukan komunikasi total, bina persepsi bunyi; anak tunadaksa memerlukan layanan mobilisasi dan aksesibilitas, dan layanan terapi untuk mendukung fungsi fisiknya.

Ada  empat bentuk penyelenggaraan  pendidikan dengan sistem segregasi, yaitu:

1)  Sekolah Luar Biasa (SLB)

Bentuk Sekolah Luar Biasa merupakan bentuk sekolah yang paling tua. Bentuk SLB merupakan bentuk unit pendidikan. Artinya, penyelenggaraan sekolah  mulai  dari  tingkat  persiapan sampai  dengan  tingkat lanjutan diselenggarakan dalam satu unit  sekolah  dengan satu kepala sekolah. Pada awalnya  penyelenggaraan sekolah  dalam  bentuk  unit  ini berkembang sesuai dengan kelainan yang   ada (satu kelainan saja), sehingga   ada SLB untuk  tunanetra  (SLB-A),  SLB  untuk          tunarungu (SLB-B),  SLB  untuk tunagrahita  (SLB-C),  SLB  untuk  tunadaksa  (SLB-D),  dan  SLB  untuk tunalaras (SLB-E). Di setiap SLB   tersebut   ada tingkat persiapan, tingkat dasar, dan tingkat lanjut. Sistem pengajarannya   lebih mengarah ke sistem individualisasi.

Selain,   ada SLB yang   hanya   mendidik satu kelainan saja, ada pula SLB yang mendidik lebih dari satu kelainan, sehingga  muncul SLB-BC yaitu SLB untuk anak tunarungu dan tunagrahita; SLB-ABCD, yaitu SLB untuk  anak tunanetra,  tunarungu,  tunagrahita,  dan  tunadaksa.  Hal  ini  terjadi  karena jumlah  anak yang ada di unit tersebut sedikit dan       fasilitas sekolah terbatas.

2) Sekolah Luar Biasa  Berasrama

Sekolah Luar Biasa Berasrama  merupakan bentuk  sekolah luar biasa  yang dilengkapi dengan fasilitas asrama. Peserta didik SLB berasrama    tinggal diasrama. Pengelolaan asrama   menjadi satu kesatuan dengan pengelolaan sekolah, sehingga  di SLB  tersebut  ada tingkat persiapan, tingkat dasar, dan tingkat lanjut, serta unit asrama. Bentuk satuan pendidikannyapun juga  sama dengan bentuk SLB di atas, sehingga  ada SLB-A untuk anak tunanetra, SLB- B untuk anak tunarungu, SLB-C untuk anak tunagrahita, SLB-D untuk anak tunadaksa, dan SLB-E untuk anak tunalaras, serta SLB-AB untuk anak tunanetra dan tunarungu.

Pada SLB berasrama, terdapat kesinambungan program pembelajaran antara yang ada di sekolah dengan di asrama, sehingga  asrama merupakan tempat pembinaan  setelah anak di sekolah. Selain itu, SLB berasrama merupakan pilihan sekolah yang sesuai bagi peserta    didik yang      berasal dari luar daerah, karena mereka terbatas fasilitas antar jemput.

3) Kelas jauh/Kelas Kunjung

Kelas jauh atau kelas kunjung adalah lembaga yang disediakan untuk memberi pelayanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus yang tinggal jauh dari SLB atau SDLB. Pengelenggaraan kelasjauh/kelas kunjung merupakan kebijaksanaan pemerintah dalam rangka menuntaskan wajib belajar serta pemerataan  kesempatan belajar.

Anak berkebutuhan khusus tersebar di seluruh  pelosok tanah air, sedangkan sekolah-sekolah yang khusus mendidik mereka                            masih sangat terbatas di kota/kabupaten. Oleh karena itu, dengan  adanya kelas jauh/kelas kunjung ini diharapkan layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus semakin luas. Dalam penyelenggaraan kelas jauh/kelas kunjung menjadi tanggung jawab SLB terdekatnya.  Tenaga guru yang bertugas  di kelas tersebut berasal dari guru  SLB-SLB  di  dekatnya.  Mereka berfungsi  sebagai  guru  kunjung (itenerant teacher). Kegiatan administrasinya  dilaksanakan di SLB terdekat tersebut.

4) Sekolah Dasar Luar  Biasa

Dalam rangka menuntaskan kesempatan belajar bagi anak berkebutuhan khusus, pemerintah mulai Pelita II   menyelenggarakan Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB). Di SDLB  merupakan unit  sekolah yang terdiri dari berbagai kelainan  yang  dididik dalam  satu  atap.  Dalam  SDLB terdapat  anak tunanetra, tunarungu, tunagrahita, dan tunadaksa.

Tenaga kependidikan di SDLB  terdiri  dari kepala sekolah, guru untuk anak tunanetra, guru untuk anak tunarungu, guru untuk anak tunagrahita, guru untuk anak tunadaksa, guru agama, dan guru olahraga. Selain tenaga kependidikan,  di  SDLB  dilengkapai  dengan  tenaga  ahli yang  berkaitan dengan kelainan mereka antara lain dokter umum, dokter spesialis, fisiotherapis,  psikolog,  speech  therapist,  audiolog.  Selain  itu  ada tenaga administrasi  dan penjaga sekolah.

Kurikulum yang digunakan di SDLB adalah kurikulum   yang digunakan di SLB untuk tingkat dasar  yang disesuikan  dengan kekhususannya. Kegiatan belajar   dilakukan   secara individual, kelompok, dan klasikal sesuai dengan ketunaan masing-masing. Pendekatan yang dipakai  juga lebih ke pendekatan individualisasi. Selain kegiatan pembelajaran, dalam rangka rehabilitasi di SDLB  juga diselenggarakan  pelayanan khusus sesuai dengan ketunaan anak. Anak  tunanetra    memperoleh  latihan menulis dan membaca braille dan orientasi mobilitas; anak tunarungu memperoleh latihan membaca ujaran, komunikasi  total, bina  persepsi bunyi  dan   irama;  anak tunagrahita memperoleh layanan mengurus diri sendiri; dan anak tunadaksa memperoleh layanan fisioterapi dan latihan koordinasi motorik.

Lama  pendidikan  di  SDLB    sama      dengan  lama  pendidikan  di  SLB konvensional  untuk  tingka  dasar,  yaitu anak  tunanetra,  tunagrahita, dan tunadaksa selama  6 tahun, dan untuk anak tunarungu 8 tahun.

Sejalan dengan perbaikan sistem perundangan di RI, yaitu UU RI No. 2 tahun1989 dan  PP No. 72 tahun 1991, dalam pasal 4 PP No. 72 tahun 1991 satuan pendidikan luar biasa  terdiri  dari:

  1. a) Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) dengan lama pendidikan minimal 6 tahun
  2. b) Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Luar Biasa (SLTPLB) minimal 3 tahun
  3. c) Sekolah Menengah Luar Biasa (SMLB) minimal 3 tahun.

Selain  itu,  pada  pasal  6  PP  No.  72  tahun  1991    juga     dimungkinkan pengelenggaraan  Taman  Kanak-kanak  Luar  Biasa  (TKLB)                       dengan  lama pendidikan satu sampai tiga tahun.

  1. Bentuk Layanan Pendidikan Terpadu/Integrasi

Bentuk layanan pendidikan terpadu/integrasi adalah sistem pendidikan yang memberikan  kesempatan  kepada  anak  berkebutuhan  khusus untuk belajar bersama-sama  dengan anak biasa (normal)  di sekolah umum. Dengan demikian, melalui sistem integrasi anak berkebutuhan khusus bersama-sama dengan anak normal  belajar dalam satu atap.

Sistem pendidikan integrasi disebut juga   sistem pendidikan terpadu, yaitu sistem pendidikan yang membawa anak berkebutuhan khusus kepada suasana keterpaduan dengan anak   normal.   Keterpaduan   tersebut dapat bersifat menyeluruh, sebagaian, atau keterpaduan dalam rangka sosialisasi.

Pada  sistem  keterpaduan  secara  penuh     dan  sebagaian,  jumlah      anak berkebutuhan khusus dalam satu kelas maksimal 10 % dari jumlah siswa keseluruhan. Selain itu dalam satu kelas  hanya  ada satu jenis  kelainan. Hal ini untuk menjaga   agar beban guru kelas tidak terlalu berat, dibanding jika   guru harus melayani berbagai macam kelainan.

Untuk membantu kesulitan yang dialami oleh  anak berkebutuhan khusus, di sekolah  terpadu  disediakan  Guru  Pembimbing  Khusus  (GPK).  GPK dapat berfungi         sebagai  konsultan  bagi  guru  kelas,  kepala  sekolah, atau anak berkebutuhan  khusus  itu  sendiri.  Selain  itu, GPK   juga berfungsi  sebagai pembimbing di ruang bimbingan khusus atau guru kelas  pada kelas khusus.

Ada  tiga     bentuk  keterpaduan     dalam  layanan  pendidikan     bagi  anak berkebutuhan khusus  menurut Depdiknas  (1986). Ketiga bentuk tersebut adalah:

1)  Bentuk Kelas Biasa

Dalam bentuk keterpaduan ini anak berkebutuhan khusus   belajar di kelas biasa secara penuh dengan menggunakan kurikulum  biasa. Oleh karena itu sangat  diharapkan  adanya  pelayanan  dan  bantuan  guru  kelas  atau guru bidang  studi    semaksimal  mungkin  dengan  memperhatikan petunjuk- petunjuk  khusus  dalam  melaksanakan  kegiatan  belajar-mengajar  di kelas biasa. Bentuk keterpaduan ini  sering  juga disebut   keterpaduan penuh. Dalam  keterpaduan ini guru pembimbing khusus  hanya berfungsi sebagai konsultan  bagi kepala sekolah, guru kelas/guru bidang studi, atau orangtua anak  berkebutuhan  khusus.  Seagai  konsultasn,  guru pembimbing  khusus berfungsi  sebagai  penasehat    mengenai  kurikulum, maupun  permasalahan dalam mengajar anak berkebutuhan khusus. Oleh karena itu perlu disediakan ruang konsultasi  untuk guru pembimbing khusus.

Pendekatan, metode, cara penilaian    yang digunakan pada kelas biasa ini tidak berbeda  dengan  yang digunakan pada  sekolah  umum. Tetapi  untuk beberapa mata pelajaran  yang disesuaikan dengan  ketunaan anak. Misalnya, anak tunanetra untuk pelajaran menggambar, matematika, menulis, membaca perlu disesuaikan  dengan  kondisi  anak.  Untuk  anak tunarungu  mata pelajaran kesenian, bahasa asing/bahasa Indonesia (lisan)  perlu disesuaikan dengan kemampuan  wicara anak.

2)  Kelas Biasa dengan Ruang Bimbingan Khusus

Pada  keterpaduan  ini,  anak  berkebutuhan  khusus    belajar  di  kelas biasa dengan menggunakan   kurikulum biasa serta   mengikuti   pelayanan khusus untuk   mata   pelajaran   tertentu   yang  tidak  dapat   diikuti   oleh anak berkebutuhan  khusus  bersama  denganvanak  normal.     Pelayanan khusus tersebut diberikan  di ruang bimbingan khusus oleh guru pembimbing khusus (GPK), dengan menggunakan pendekatan individu dan metode peragaan yang  sesuai.  Untuk  keperluan  tersebut,  di  ruang bimbingan  khusus dilengkapi     dengan  peralatan     khusus     untuk memberikan     latihan  dan bimbingan khusus. Misalnya   untuk anak tunanetra, di ruang bimbingan khusus         disediakan       alat   tulis braille, peralatan   orientasi   mobilitas. Keterpaduan  pada tingkat ini  sering disebut juga  keterpaduan sebagian.

3)  Bentuk Kelas Khusus

Dalam    keterpaduan  ini  anak  berkebutuhan  khusus  mengikuti pendidikan sama  dengan kurikulum di SLB secara penuh di kelas khusus pada sekolah umum  yang melaksanakan program pendidikan terpadu. Keterpaduan ini disebut  juga  keterpaduan     lokal/bangunan  atau  keterpaduan  yang  bersifat sosialisasi.

Pada tingkat keterpaduan ini, guru pembimbing khusus    berfungsi sebagai pelaksana program  di kelas khusus. Pendekatan, metode, dan cara penilaian yang digunakan  adalah  pendekatan, metode, dan cara penilaian yang biasa digunakan di SLB. Keterpaduan  pada tingkat ini  hanya  bersifat fisik dan sosial, artinya  anak berkebutuhan khusus dapat dipadukan untuk kegiatan yang bersifat  non akademik, seperti olahraga, keterampilan, juga sosialisasi pada waktu jam-jam istirahat atau acara lain yang diadakan oleh sekolah.

Latihan

Untuk   memperdalam    pemahaman    anda   tentang   bentuk-bentuk   layanan pendidikan  bagi anak berkebutuhan khusus, maka  berikut ini ada beberapa  latihan yang harus  anda kerjakan. Latihan tersebut adalah:

  1. Buatlah illustrasi  yang  menggambarkan  berbagai  bentuk  layanan  pendidikan bagi  anak berkebutuhan  khusus yang ada di sekitar saudara.
  2. Jelaskan pengalaman saudara dalam berdialog dan atau bahkan mendidik  anak berkebutuhan  khusus.  Prinsip  apa  yang  harus                                              anda  perhatikan      dalam memberikan layanan  pada anak tersebut.
  3. Datanglah pada suatu SLB atau SDLB, atau lembaga pendidikan yang mendidik anak berkebutuhan  khusus.  Amatilah                                      layanan     apa  yang  diberikan  kepada mereka, bagaimana  sikap guru dalam memberikan layanan kepada mereka.

Rambu-rambu Jawaban Latihan

  1. Untuk membuat illustrasi yang menggambarkan berbagai bentuk layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan seyogyanya anda mendatangi beberapa sekolah penyelenggara  pendidikan  khusus SLB  baik  yang berasrama maupun  yang  tidak  berasrama,  SDLB,  dan  sekolah  terpadu.  Tanyakan kepada   para guru   tentang kelebihan dan kekurang dari berbagai layanan tersebut. Selain itu, anda juga dapat  menggunakan  situs Direktorat PSLB untuk  memperkaya pemahaman  anda tentang  bentuk-bentuk  layanan pendidikan  anak berkebutuhan khusus.
  1. Datanglah ke SLB atau SDLB, amati dan tanyakan kepada guru apakah mereka menerapkan    prinsip-prinsip     layanan     pendidikan    bagi anak berkebutuhan khusus. Berdialoglah dengan mereka, mengapa prinsip tersebut harus  diterapkan di sekolah.
  2. Untuk menjawab latihan tiga, diskusikan  dengan para guru tentang layanan yang diberikan kepada   para anak berkebutuhan khusus   dikaji dari proses pembelajaran, kegiatan ekstra, kegiatan pendukung lainnya.

Rangkuman

Bentuk-bentuk  layanan  pendidikan  bagi  anak  berkebutuhan  khusus dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok besar, yaitu:

  1. Bentuk Layanan  Pendidikan Segregrasi

Ada  empat bentuk penyelenggaraan  pendidikan dengan sistem segregasi, yaitu:

1) Sekolah Luar Biasa (SLB)

Bentuk    Sekolah Luar Biasa merupakan bentuk sekolah yang paling tua. Bentuk SLB  merupakan bentuk unit pendidikan.

2) Sekolah Luar Biasa Berasrama

Sekolah Luar Biasa Berasrama  merupakan bentuk  sekolah luar biasa  yang dilengkapi dengan fasilitas  asrama.

3)  Kelas jauh/Kelas Kunjung

Kelas  jauh  atau  kelas  kunjung  adalah  lembaga  yang  disediakan  untuk memberi pelayanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus yang tinggal jauh dari SLB atau SDLB.

4) Sekolah Dasar Luar Biasa

SDLB    merupakan unit    sekolah yang terdiri dari berbagai kelainan yang dididik  dalam satu atap. Dalam SDLB   terdapat anak tunanetra, tunarungu, tunagrahita, dan tunadaksa. Tenaga kependidikan di SDLB  terdiri  dari kepala sekolah, guru untuk anak tunanetra, guru untuk anak tunarungu, guru untuk anak tunagrahita, guru untuk anak tunadaksa, guru agama, dan guru olahraga.

  1. b) Bentuk Layanan Pendidikan Terpadu/Integrasi

Bentuk layanan pendidikan terpadu/integrasi adalah  sistem pendidikan yang memberikan  kesempatan  kepada  anak  berkebutuhan  khusus untuk belajar bersama-sama  dengan anak biasa (normal)  di sekolah umum.

Ada  tiga     bentuk  keterpaduan     dalam  layanan  pendidikan      bagi  anak berkebutuhan khusus  menurut Depdiknas  (1986). Ketiga bentuk tersebut adalah:

1)  Bentuk Kelas Biasa

Dalam bentuk keterpaduan ini anak berkebutuhan khusus    belajar di kelas biasa secara penuh dengan menggunakan kurikulum  biasa.

2)  Kelas Biasa dengan Ruang Bimbingan Khusus

Pada keterpaduan ini, anak berkebutuhan khusus  belajar di kelas biasa dengan menggunakan kurikulum biasa serta mengikuti pelayanan khusus untuk mata  pelajaran  tertentu  yang tidak dapat  diikuti  oleh anak berkebutuhan khusus bersama dengan  anak normal.

3)  Bentuk Kelas Khusus

Dalam keterpaduan  ini  anak  berkebutuhan  khusus  mengikuti pendidikan sama  dengan kurikulum di SLB secara penuh di kelas khusus pada sekolah umum  yang  melaksanakan  program  pendidikan  terpadu. Keterpaduan  ini disebut  juga  keterpaduan lokal/bangunan  atau keterpaduan  yang  bersifat sosialisasi.

TES FORMATIF 2

Pilihlah salah satu alternatif jawaban yang paling tepat pada setiap butir soal di bawah ini.

  1. Anak  berkebutuhan   khusus   memperoleh   kesempatan   yang   sama       untuk memperoleh pendidikan. Ini sesuai  dengan prinsip ….
  2. A. all for the children
  3. reality
  4. equality of opportunity
  5. D. cooperative
  1. Guru pada sekolah berkebtuhan khusus  dalam menjelaskan  konsep diupayakan sesuai dengan aslinya, bila tidak mungkin  menggunakan  model  atau bagan. Hal ini sesuai  dengan prinsip ….
  2. A. kenyataan
  3. keperagaan
  4. kemampuan anak
  5. D. model
  1. Bentuk layanan pendidikan yang paling tua  untuk  anak berkebutuhan khusus adalah ….
  2. A. Sekolah Luar Biasa
  3. Kelas kunjung
  4. Kelas jauh
  5. D. Kelas paruh waktu
  1. Sekolah untuk anak tunarungu disebut ….
  2. A. SLB/A B. SLB/D C. SLB/E D. SLB/B
  1. Anak tunagrahita sedang paling tepat memperoleh layanan pendidikan dalam bentuk:
  2. A. SLB terpadu
  3. SLB Berasrama
  4. Kelas khusus
  5. D. Kelas Jauh
  1. Lokasi anak berkebutuhan khusus tersebar di berbagai pelosok, bentuk pendidikan yang paling sesuai adalah ….
  2. A. SLB terpadu
  3. SLB Berasrama
  4. Kelas khusus
  5. D. Kelas Jauh
  1. Bentuk layanan pendidikan yang siswanya terdiri dari berbagai ketunaan yang dididik  dalam satu tingkatan sekolah  yang sesuai adalah ….
  2. A. SLB terpadu B. SLB majemuk C.  SDLB
  3. D. Sekolah terpadu
  1. Sekolah umum yang menerima   peserta didik anak berkebutuhan khusus yang dididik bersama  dengan anak normal dalam satu kelas  adalah ….
  2. A. Sekolah terpadu dengan  bentuk kelas biasa
  3. Sekolah terpadu dengan  ruang bimbingan khusus
  4. Sekolah terpadu  dengan bentuk kelas khusus
  5. D. Sekolah terpadu
  1. Bentuk layanan pendidikan anak berkebutuhan khusus yang terpadunya   hanya dalam tingkat  fisik  adalah:
  2. A. Sekolah terpadu dengan  bentuk kelas biasa
  3. Sekolah terpadu dengan  ruang bimbingan khusus
  4. Sekolah terpadu  dengan bentuk kelas khusus
  5. D. Sekolah terpadu
  1. Guru pembimbing khusus sering memberikan bantuan     di sekolah terpadu. Kerja    guru pembimbing khusus     akan menjadi optimal    mana kala    bentuk sekolah terpadu adalah:
  1. A. bentuk kelas biasa
  2. ruang bimbingan khusus
  3. bentuk kelas khusus
  4. D. Guru kunjung

Tes Formatif 2

1. C. Semua anak mempunyai hak yang sama    untuk memperoleh layanan pendidikan  tanpa  mengecualikan jenis kecacatannya.
2. B. Konsep  akan  mudah  terbentuk    melalui  peragaan,  karena     dengan peragaan persepsi dibentuk seluruh modalitas penamatan.
3. A. SLB merupakan bentuk layanan pendidikan anak berkebutuhan khusus yang tertua (model segregasi)
4. D. SLB/B untuk anak tunarungu; SLB/A untuk anak tunanetra; SLB/D

untuk anak tunadaksa: dan SLB/E untuk anak tunalaras

5. B. Model layanan pendidikan yang paling tepat untuk anak tunagrahita adalah model SLB  berasrama.
  1. D. Layanan  kelas  jauh    lebih  efisien  dan  anak   tetap  berada  dalam lingkungannya
  2. C. SDLB hanya satu tingkatan, yaitu SD; alaternatif  jawaban yang lain ada berbagai tingkatan pendidikan.
  3. A. Bentuk keterpaduan yang paling lengkap
  4. C. Masih ada pemisahan  saat layanan pendidikan
  5. B. Layanan pendidikan dari Guru Pembimbing Khusus akan optimal

Baca juga artikel lainnya:

HAKIKAT LAYANAN BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS.

Konsep Layanan Pendidikan Bagi Anak Berkebutuhan Khusus

Model Layanan Pendidikan Bagi Anak Berkebutuhan Khusus

Pendidikan Inklusif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *