Pendidikan Inklusif

Pendidikan Inklusif

Suparno

Edi Purwanto

Subunit ini akan memberikan pengantar kepada saudara untuk mengkaji konsep layanan bagi anak-anak berkebutuhan khusus dalam bentuk pendidikan inklusi. Untuk itu saudara diharapkan dapat mencermatinya dengan baik mengenai uraian dan ilustrasi yang ada. Selain itu diharapkan pula untuk membaca berbagai referensi lain yang   relevan   dengan konteks   bahasan.   Dengan   demikian,  usai mengikuti pembelajaran  ini saudara  diharapkan  mampu menjelaskan  konsep  pendidikan inklusi, serta membandingkan dengan bentuk layanan lainnya.

Pengetian Inklusif

Untuk memahami konsep dan makna layanan pendidikan inklusi secara komprehensif,  maka  ada  baiknya beberapa  ilustrasi  berikut  ini  dapat saudara perhatikan dengan seksama.

Ilustrasi 1

Bagus   adalah   salah   seorang   anak   yang   mengalami   kelainan       fungsi pendengarannya, sedang kemampuan intelektualnya normal. Ia oleh orangtuanya dimasukkan pada Sekolah Dasar umum. Di sana bagus harus mengikuti program- program yang ada di sekolahnya, termasuk materi pelajaran yang diberikan tanpa ada perbedaan layanan yang diberikan.

Ilustrasi 2

Ada  satu  Sekolah  Dasar     yang  memiliki  seorang  siswa  yang  mengalami kelainan penglihatan atau tunanetra bernama Roni. Rupanya sekolah tersebut memiliki perhatian khusus terhadap keberadaannya, sehingga sekolah membuat program  khusus  yang  sesuai  dengan  ketunaan  Roni,  seperti  materi  pelajaran, fasilitas belajar dan tenaga pendidik yang dipersiapkan untuknya.

Kedua ilustrasi yang dikemukakan tersebut, nampak sekali adanya persamaan dan perbedaan yang prinsip. Persamaannya adalah bahwa keduanya menunjukkan adanya siswa berkebutuhan khusus yang belajar di sekolah umum (SD) meskipun dengan cara-cara atau pendekatan yang berbeda. Sedang dilihat dari bentuk pelayanannya, keduanya menunjukkan perbedaan yang sangat prinsip. Ilustrasi pertama menunjukkan suatu konsep mainstreaming atau integrasi, dimana siswa berkebutuhan khusus harus menyesuaikan diri dengan sistem yang sudah ada pada instutusi atau lembaga tempat belajarnya. Sebaliknya ilustrasi kedua menunjukkan konsep  inklusi,  dimana  sistem  suatu  institusi  atau lembaga  yang  menyesuaikan dengan kebutuhan siswa. Selain itu, integrasi lebih berfokus pada kurikulum dan diatur oleh guru, sedangkan inklusi berpusat pada siswa, dan dikembangkannya interaksi yang komunikatif dan dialogis.

Dari  uraian  tersebut  sesungguhnya  dikemukakan,  bahwa  konsep  inklusif lebih menekankan pada upaya pemenuhan kebutuhan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Pendidikan inklusif menurut Sapon-Shevin dalam O’Neil (1994/1995) didefinisikan sebagai suatu sistem layanan pendidikan khusus yang mensyaratkan agar semua anak berkebutuhan khusus dilayani di sekolah-sekolah terdekat di kelas biasa bersama teman-teman seusianya. Untuk itu perlu adanya restrukturisasi di sekolah sehingga menjadi komunitas yang mendukung pemenuhan kebutuhan khusus bagi setiap anak. Sejalan dengan konsep ini, Smith (2006:45) mengemukakan, bahwa inklusi dapat berarti penerimaan anak-anak yang mengalami hambatan ke dalam kurikulum, lingkungan, interaksi sosial dan konsep diri (visi- misi) sekolah. Gagasan utama mengenai pendidikan inklusif ini menurut Johnsen (2003:181), adalah sebagai beriku:

  • Bahwa setiap anak merupakan bagian integral dari komunitas lokalnya dan kelas dan kelompok reguler.
  • Bahwa kegiatan sekolah diatur dengan sejumlah besar tugas belajar yang kooperatif, individualisasi    pendidikan   dan   fleksibilitas    dalam   pilihan materinya.
  • Bahwa  guru   bekerjasama   dan   memiliki   pengetahuan   tentang  strategi pembelajaran dan kebutuhan pengajaran umum, khusus dan individual, dan memiliki pengetahuan tentang cara menghargai tentang pluralitas perbedaan individual dalam mengatur aktivitas kelas.

Pendidikan inklusi mempercayai bahwa semua anak berhak mendapatkan pelayanan pendidikan yang baik sesuai dengan usia atau perkembangannya, tanpa memandang derajat, kondisi ekonomi, ataupun kelainannya. Penting bagi guru untuk disadari, bahwa di sekolah mereka dapat membuat penyesuaian pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus, manakala mereka memiliki pandangan pendidikan yang komprehensif , yang terpusat pada anak. Meskipun mungkin masih memerlukan pelatihan tentang metode atau strategi khusus yang akan diterapkan di sekolah.

Kesadaran   tersebut   juga    perlu    dibangun,   terutama   berkenaan    dengan pengembangan pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak secara individual. Ini didasari atas pertimbangan, bahwa anak memiliki hak untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas sesuai dengan potensi dan kebutuhannya. Mereka juga memiliki hak untuk belajar bersama dengan teman-teman sebayanya.

Implementasi Inklusif

Pendidikan  inklusif  sebenarnya   merupakan  perkembangan  lebih  lanjut dari program mainstreaming yang sudah beberapa dekade ini diterapkan secara luas oleh para pendidik di berbagai negra untuk anak- anak berkebutuhan khusus, meskipun orientasi dan implementasinya berbeda.    Ada beberapa faktor yang harus dipertimbagkan dalam implementasi pendidikan inklusif, beberapa faktor dimaksud menurut skjorten, Miriam D (2003:52-58) adalah; (1) Kebijakan – hukum- undang- undang – ekonomi, yaitu perlunya ada undang-undang khusus yang mengakomodasi kepentingan anak  berkebutuhan khusus, sertu dukungan  dana   dalam implementasinya;  (2)  Sikap  –  pengalaman-  pengetahuan,  yaitu berkenaan  dengan pengakuan hak anak serta kemampuan dan potensinya; (3) Kurikulum lokal, reginal, dan nasional; (4) Perubahan pendidikan yang potensial, inklusi harus didukung oleh reorientasi di lapangan, dalam bidang pendidikan guru dan penelitian; (5) Kerjasama lintas sektoral; (6) Adaptasi lingkungan, dan (7) Penciptaan lapangan kerja.

Di Indonesia sendiri    Pelaksanaan pendidikan inklusif di sekolah didasarkan pada beberapa landasan, filosofis dan yuridis-empiris. Secara filosofis,  implementasi inklusi mengacu pada beberapa hal, diantaranya, bahwa:

  • Pendidikan adalah hak mendasar bagi setiap anak, termasuk anak berkebutuhan khusus
  • Anak adalah    pribadi   yang    unik   yang    memiliki    karakteristik,    minat, kemampuan dan kebutuhan belajar yang berbeda
  • Penyelenggaraan pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara orang tua masyarakat dan pemerintah
  • Setiap anak berhak mendapat pendidikan yang layak
  • Setiap anak berhak memperoleh akses pendidikan yang  ada di lingkungan sekitarnya

Sedangkan landasan yuridis-empirisnya mengacu pada:

  • UUSPN No 20 tahun 2003, Pasal 5 Ayat (1), (2)
  • U U D 1945 pasal 31 ayat (1) & (2). dan (3)
  • Permen No 22 dan 23 Tahun 2006
  • Deklarasi Hak Asasi Manusia, 1948
  • Konvensi Hak Anak, 1989
  • Konferensi Dunia tentang Pendidikan untuk Semua, 1990
  • Resolusi PBB nomor 48/96 tahun 1993 tentang
  • Persamaan Kesempatan bagi Orang Berkelainan
  • Pernyataan Salamanca (1994) tentang Pendidikan Inklusi Komitmen Dakar (2000) mengenai Pendidikan untuk Semua Deklarasi Bandung (2004) & Rekomendasi Bukittinggi (2005) komitmen “pendidikan inklusif”.

Kendati demikian, selama ini masih ada beberapa persoalan prinsip yang menyangkut pelaksanaan pendidikan inklusif di sekolah. Di satu sisi, sesuai dengan perundangan yang ada pendidikan inklusif hanya berlaku bagi anak-anak berkebutuhan khusus yang kemampuan intelektualnya tidak berada di bawah rata-rata. Sedangkan secara konsep filosofis,   sebenarnya inklusi adalah wadah semua anak berkebutuhan khusus, termasuk diantaranya anak-anak yang kemampuan intelektualnya berada di bawah rata-rata.

Sekolah Penyelenggara

Sekolah penyelenggara pendidikan inklusif, tentulah sedolah umum yang telah memenuhi beberapa persyaratan yang telah ditentukan. Beberapa persyaratan dimaksud diantaranya berkenaan dengan keberadaan siswa berkebutuhan khusus, komitmen, manajemen sekolah, sarana  prasarana, dan ketenagaan. Sekolah penyelenggara pendidikan inklusis haruslah memiliki siswa berkebutuhan khusus, memiliki komitmen terhadap pendidikan inklusi, penuntasan wajib belajar maupun terhadap komite sekolah. Selain itu juga harus memiliki jaringan kerjasama dengan lembaga-lembaga terkait, yang didukung dengan adanya fasilitas dan sarana pembelajaran yang mudah diakses oleh semua anak.

Sekolah   penyelenggara     pendidikan    inklusi    juga    harus menciptakan lingkungan yang ramah terhadap pembelajaran, yang memungkinkan semua siswa dapat belajar dengan nyaman dan menyenangkan. Berbagai metode, atau strategi belajar   sangat  mungkin   dikembangkan pada  sekolah-sekolah penyelenggara pendidikan inklusi, untuk menciptakan situasi pembelajaran yang aktif dan fleksibel. Adanya penghargaan terhadap    diri    anak,    memotivasi    dan    menumbuhkan kepercayaan diri anak, dengan menggunakan kata-kata atau nada suara yang baik. Ada beberapa kemampuan   yang    harus dimiliki      guru     pendidikan    inklusi, sebagaimana dikemukakan Mirriam S (2005), yaitu :

  • Pengetahuan tentang perkembangan anak
  • Pemahaman akan kebutuhan dan nilai interaksi komunikasi dan pentingnya dialog di kelas
  • Pemahaman  akan   pentingnya   mendorong   rasa   penghargaan   diri   anak berkaitan dengan perkembangan, motivasi dan belajar melalui suatu interaksi positif dan berorientasikan sumber
  • Pemahaman tentang  ”Konvensi  Hak  Anak”  dan  implikasinya  terhadap implementasi pendidikan dan perkembangan semua anak
  • Pemahaman  tentang   pentingnya   menciptakan   lingkungan   yang   ramah terhadap                 pembelajaran    yang    berkaitan    dengan   isi,    hubungan    sosial, pendekatan dan metode dan bahan pembelajaran
  • Pemahaman arti  pentingnya  belajar  aktif  dan  pengembangan  pemikiran kreatif dan logis
  • Pemahaman pentingnya evaluasi dan asesmen berkesinambungan oleh guru
  • Pemahaman konsep inklusi dan pengayaan serta cara pelaksanaan inklusi dan pembelajaran yang berdeferensi
  • Pemahaman terhadap  hambatan  belajar  termasuk  yang  disebabkan  oleh kecacatan fisik atau mental
  • Pemahaman konsep pendidikan berkualitas dan kebutuhan akan implementasi pendekatan dan metode baru.

Kurikulum yang diterapkan, dapat menggunakan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP)   dikembangkan sekolah sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar untuk anak-anak normal penuh, modifikasi, atau secara khusus dikembangkan program pembelajaran individual (PPI) bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Sekolah juga harus mempersiapkan guru pendamping khusus, yang bisa didatangkan   dari sekolah untuk anak berkebutuhan khusus (SLB) sebagai sekolah basis, ataupun  guru  di  sekolah  umum  yang  telah  memperoleh  pelatihan khusus sebagai guru pendamping untuk anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah umum penyelenggara pendidikan inklusif.

Latihan

Untuk memperdalam pemahaman saudara mengenai   pendidikan inklusi bagi anak berkebutuhan khusus, maka  berikut ini ada  beberapa  latihan  yang harus  anda kerjakan.

  1. Buatlah ringkasan pokok yang menjelaskankan perbedaan konsep pendidikan terpadu dan pendidikan inklusi secara filosofis, bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
  1. Jelaskan pengalaman apa yang telah saudara miliki dalam     mengajar di sekolah dasar yang memiliki anak berkebutuhan khusus dan atau bahkan mendidik sendiri anak berkebutuhan khusus. Apakah anak-anak tersebut mendapatkan perhatikan  dalam pemberikan layanan.
  2. Buatlah suatu model sederhana mengenai langkah-langkah yang mesti dilakukan dalam mengajak anak untuk bersekolah,
  3. Datanglah pada suatu sekolah umum penyelenggara pendidikan inklusi, perhatikan bagaimana mereka memberikan layanan kepada anak-anak berkebutuhan khusus. Buatlah laporan singkatnya.

Rambu-rambu Jawaban Latihan

  1. Untuk membuat ringkasan yang menjelaskan perbedaan pendidikan inklusi dan pendidikan terpadu, saudara harus mencermati konsep dan pengertian keduanya. Untuk itu saudara dapat melakukan studi pustaka atau mencarinya melalui internet.
  2. Untuk menjawab  latihan  kedua,    diskusikan     dengan  para  guru tentang layanan yang diberikan kepada  para anak berkebutuhan khusus  dikaji dari proses pembelajaran, kegiatan ekstra, kegiatan pendukung lainnya.
  3. Untuk menjawab latihan tiga, ada baiknya saudara pikirkan dan diskusikan dengan teman-teman mengenai usaha atau langkah-langkah sosialisasi ke masyarakat, bagaimana mengajak anak untuk bersekolah. Ada baiknya jika saudara juga bertanya atau berdiskusi dengan tokoh masyarakat atau dinas pendidikan setempat.
  4. Datanglah ke suatu sekolah umum penyelenggara pendidikan inklusi , amati dan tanyakan kepada kepala sekolah atau guru apakah yang mereka lakukan dalam pelaksanaan pendidikan inklusi bagi anak berkebutuhan khusus. Diskusikan mengenai program, kurikulum, proses pembelajaran, ketenagaan dsb yang diterapkan di sekolah.

Rangkuman

Pendidikan inklusif merupakan suatu sistem layanan pendidikan khusus yang mensyaratkan agar semua anak berkebutuhan khusus dilayani di sekolah-sekolah terdekat di kelas biasa bersama teman-teman seusianya. Hal ini berkenaan dengan adanya  hak  setiap  anak  untu  memperoleh pendidikan  yang  baik.  Pendidikan inklusi    mempercayai    bahwa semua   anak    berhak    mendapatkan    pelayanan pendidikan    yang baik sesuai dengan  usia        atau   perkembangannya,    tanpa memandang derajat, kondisi ekonomi, ataupun kelainannya.   Penting bagi guru untuk disadari, bahwa di sekolah mereka dapat membuat penyesuaian pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus, manakala mereka memiliki pandangan pendidikan yang komprehensif , yang terpusat pada anak. Meskipun mungkin masih memerlukan pelatihan tentang metode atau strategi khusus yang akan diterapkan di sekolah.

Sekolah    penyelenggara    pendidikan    inklusi    juga    harus    menciptakan lingkungan yang ramah terhadap pembelajaran, yang memungkinkan semua siswa dapat belajar dengan nyaman dan menyenangkan. Berbagai metode, atau strategi belajar sangat mungkin dikembangkan pada sekolah-sekolah penyelenggara pendidikan inklusi, untuk menciptakan situasi pembelajaran yang aktif dan fleksibel. Adanya penghargaan terhadap diri anak, memotivasi dan menumbuhkan kepercayaan diri anak, dengan menggunakan kata-kata atau nada suara yang baik

Kurikulum, dapat menggunakan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) dikembangkan sekolah sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar untuk anak-anak normal penuh, modifikasi, atau secara khusus dikembangkan program pembelajaran individual (PPI) bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Sekolah juga harus mempersiapkan guru pendamping khusus, yang bisa didatangkan dari sekolah untuk anak berkebutuhan khusus (SLB) sebagai sekolah basis, ataupun guru di sekolah umum yang telah   memperoleh   pelatihan   khusus   sebagai   guru   pendamping   untuk   anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah umum penyelenggara pendidikan inklusif.

TES FORMATIF 3

Pilihlah salah satu alternatif jawaban yang paling tepat, pada setiap item berikut ini;

  1. Pendidikan inklusi, merupakan suatu sistem pendidikan layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus di ….
  2. A. Sekolah Dasar
  3. Sekolah umum
  4. Sekolah luar biasa
  5. D. Sekolah segregasi
  1. Inklusi sebagai sistem layanan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus lebih menekankan pada ….
  2. A. Karakteristik anak
  3. Persamaan hak anak
  4. Pengembangan kemampuan anak
  5. D. Perbedaan kondisi anak
  1. Layanan yang  diberikan  kepada  anak berkebutuhan  khusus,  pada  sekolah inklusi haruslah ….
  2. A. Menyesuaikan kebutuhan anak
  3. Menyesuaikan kebutuhan sekolah
  4. Menyesuaikan ketenagaan yang ada
  5. D. Menyesuaikan kurikulum yang ada
  1. 4. Di dalam implementasinya, penyelelenggaraan pendidikan inklusi berupaya menciptakan pembelajaran yang ….
  2. A. Berfokus pada kurikulum
  3. Aktif dan komunikatif
  4. Berfokus pada anak berkebutuhan khusus
  5. Diatur oleh guru
  1. 5. Implementasi pendidikan inklusi juga menekankan adanya : A. Perbedaan individual
  2. Hak belajar anak
  3. Kemampuan seorang anak
  4. Fasilitas pembelajaran
  1. Lingkungan  sekolah   dalam   penyelenggaraan   pendidikan   inklusi,   perlu diciptakan agar :
  2. A. Menumbuhkan kebersamaan
  3. Sesuai dengan kurikulumnya
  4. Memudahkan pembinaan siswa
  5. D. Ramah terhadap pembelajaran
  1. Satu hal yang harus dipahami guru dalam pelaksanaan pendidikan inklusi adalah mengenai:
  2. A. Adanya perbedaan anak berkebutuhan khusus
  1. Penghargaan terhadap diri anak
  2. Pentingnya belajar bersama
  3. D. Perlunya diciptakan ruang khusus
  1. Untuk dapat  memberikan  layanan  yang  tepat  kepada  anak  berkebutuhan khusus, maka guru perlu memahami :
  2. A. Kurikulum sekolah
  3. Konsep pendidikan berkualitas
  4. Kegiatan pembelajaran
  5. D. Kedisiplinan belajar
  1. Sekolah memiliki peran yang penting dalam memberikan layanan pendidikan inklusif bagi anak berkebutuhan khusus , khususnya dalam:
  2. A. Mengembangkan sumber daya yang ada
  3. Melaksanakan ketentuan atau aturan yang ada
  4. Meningkatkan kerjasama antar sekolah
  5. D. Mengembangkan fleksibilitas sistem pendidikan
  1. Pendidikan inklusif mempercayai  bahwa  semua  anak  akan  memperoleh layanan pendidikan yang baik sesuai dengan :
  2. A. karakteristiknya
  3. usia dan perkembangannya
  4. ekonominya
  5. D. jenis kelainannya

Tes Formatif 3

  1. A. Konsep dasar inklusi (belajar bersama dan hidup bersama di sekolah umum).
  2. B. Statement  Salamanca :  Educational for all  atau  hak semua anak untuk memperoleh pendidikan
  3. A. Kebutuhan anak merupakan dasar pelaksanaan inklusi
  4. B. Syarat yang harus  dipenuhi dalam penyelenggaraan inklusi
  5. B. Salah satu dasar yang harus  diperhatikan dalam penyelenggaraan inklusi
  6. D. Situasi    yang dikonsisikan    dalam    penyelenggaraan pembelajaran di sekolah penyelenggara pendidikan inklusif
  7. B. Prinsip  yang  harus  ditaati  guru  dalam  penyelenggaraan  pendidikan inklusif
  8. B. Pendidikan berkualitas  didasarkan pada kebutuhan  anak (anak menjadi lebih bermakna)
  9. D. Sekolah mempunyai fleksibilitas dalam penyusunan kurikulum  sesuai dengan kebutuhan anak
  10. B. Prinsip penyelenggaraan pendidikan inklusif

Baca juga artikel lainnya:

HAKIKAT LAYANAN BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS.

Konsep Layanan Pendidikan Bagi Anak Berkebutuhan Khusus

Model Layanan Pendidikan Bagi Anak Berkebutuhan Khusus

Pendidikan Inklusif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *